Penyebab Lost Signal pada Drone Aerial, Cara Mengatasi, dan Tips Praktis untuk Daily Use

 

Penyebab Lost Signal pada Drone Aerial, Cara Mengatasi, dan Tips Praktis untuk Daily Use



Penyebab Lost Signal pada Drone Aerial, Cara Mengatasi, dan Tips Praktis untuk Daily Use

Kita semua suka momen ketika drone naik, framing cakep, gerakan halus, dan hasilnya bikin brand kalian terlihat lebih mahal. Tapi ada satu hal yang bisa bikin panik dalam hitungan detik: lost signal. Layar freeze, notifikasi muncul, kontrol terasa kosong. Kalau kalian pernah ngalamin, kalian tahu rasanya.

Lost signal pada drone aerial bukan cuma soal jarak terlalu jauh. Ini kombinasi antara teknis, lingkungan, dan kebiasaan terbang yang kadang kita anggap sepele. Di artikel ini kita bahas tuntas: penyebabnya, cara mengatasinya, dan tips praktis buat daily use—biar kalian nggak cuma terbang, tapi terbang dengan kontrol penuh.


Apa Itu Lost Signal pada Drone?

Lost signal adalah kondisi ketika koneksi antara remote controller dan drone terputus. Pada drone seri seperti DJI (Mini Series, Air, Mavic, sampai Inspire), sistem biasanya akan otomatis mengaktifkan fitur Return to Home (RTH). Tapi tetap saja, momen terputusnya sinyal itu berisiko—terutama kalau kalian terbang di area padat, dekat gedung tinggi, atau di event besar.

Kita harus paham satu hal: teknologi secanggih apa pun tetap tunduk pada hukum fisika. Sinyal radio bisa terganggu. Dan di situlah awareness jadi kunci.


Penyebab Lost Signal pada Drone Aerial


Penyebab Lost Signal pada Drone Aerial, Cara Mengatasi, dan Tips Praktis untuk Daily Use

Berikut ini penyebab paling umum yang sering kita temui di lapangan:

1. Interferensi Sinyal (Signal Interference)

Area perkotaan seperti Surabaya penuh dengan WiFi, BTS, antena radio, dan perangkat elektronik lain. Semua itu bermain di frekuensi yang bisa bentrok dengan transmisi drone.

Kita pernah terbang di area industrial padat sinyal—secara jarak aman, tapi grafik sinyal naik turun drastis. Artinya, bukan jarak yang jadi musuh, tapi “keramaian frekuensi”.

2. Terhalang Objek Fisik (Obstacle Blocking)

Gedung tinggi, tower, pepohonan lebat, bahkan struktur baja bisa memblokir line of sight antara remote dan drone. Sinyal radio butuh jalur yang relatif bebas hambatan.

Kalau kalian terbang di balik gedung tanpa repositioning pilot, itu sudah risiko besar.

3. Antena Remote Tidak Optimal

Banyak yang masih salah posisi antena. Antena bukan diarahkan ke drone seperti pistol laser. Justru bagian samping antena yang memancarkan sinyal terkuat.

Kesalahan kecil ini bisa bikin sinyal drop padahal jarak masih dekat.

4. Firmware Tidak Update atau Bug System

Firmware lama kadang belum optimal terhadap gangguan sinyal. Di sisi lain, firmware baru yang belum stabil juga bisa menimbulkan glitch.

Kita selalu cek stabilitas update sebelum dipakai untuk job komersial.

5. Baterai Lemah atau Overheat

Baterai drone dan remote yang melemah bisa memengaruhi kestabilan transmisi. Terbang siang bolong tanpa cooling break juga bisa memicu overheating, yang berdampak ke performa sistem.


Cara Mengatasi Lost Signal Secara Teknis

Sekarang kita masuk ke solusi yang lebih praktis dan bisa langsung kalian terapkan.

1. Aktifkan dan Setting RTH dengan Benar

Pastikan:

  • Home point sudah ter-record dengan akurat.

  • Ketinggian RTH lebih tinggi dari obstacle sekitar.

  • Mode RTH disetting ke “Return” bukan “Hover” kalau kalian terbang di area ramai.

RTH bukan fitur tambahan. Ini safety layer utama.

2. Jaga Line of Sight

Selalu usahakan drone terlihat secara visual. Jangan terlalu percaya FPV di layar. Visual awareness jauh lebih aman daripada cuma mengandalkan monitor.

3. Pindah Posisi Saat Sinyal Melemah

Kalau indikator sinyal mulai turun, jangan panik. Reposition diri kalian. Geser beberapa meter saja kadang langsung memperbaiki koneksi.

4. Gunakan Frekuensi yang Lebih Stabil

Beberapa drone DJI memungkinkan switch auto/manual antara 2.4 GHz dan 5.8 GHz. Di area padat WiFi, kadang 5.8 GHz lebih stabil. Tapi tetap lihat kondisi lapangan.

5. Hindari Terbang di Area Elektromagnetik Tinggi

Dekat tower listrik tegangan tinggi atau instalasi industri berat? Pertimbangkan ulang. Medan elektromagnetik bisa mengganggu kompas dan transmisi.


Tips Praktis untuk Daily Use (Biar Nggak Kejadian Lagi)

Ini yang sering kita terapkan sebelum dan saat terbang:

  • Selalu cek jumlah satelit sebelum take off.

  • Tunggu home point terkonfirmasi.

  • Kalibrasi kompas kalau pindah lokasi jauh.

  • Jangan langsung gas jarak jauh di menit pertama.

  • Monitor grafik sinyal, bukan cuma gambar video.

  • Jangan terbang terlalu rendah di antara gedung.

Pengalaman kami, 80% kasus lost signal sebenarnya bisa dicegah dari pre-flight discipline. Bukan soal mahalnya drone, tapi soal kebiasaan operatornya.


Pengalaman Kami di Lapangan

Kita pernah handle event outdoor besar dengan ribuan pengunjung. Area penuh WiFi portable, lighting system, dan perangkat broadcasting. Di awal penerbangan, grafik sinyal sempat fluktuatif.

Apa yang kita lakukan? Bukan panik. Kita reposition pilot, naikkan altitude sedikit untuk clear obstacle, dan stabilkan orientasi antena. Hasilnya? Sinyal kembali penuh dan pengambilan footage tetap aman sampai landing.

Di project lain, kita sengaja batasi jarak maksimal walaupun drone masih mampu lebih jauh. Kenapa? Karena dalam pekerjaan komersial, stabilitas lebih penting daripada pamer jarak.

Kita selalu anggap drone itu bukan mainan. Ini alat kerja. Dan setiap lost signal adalah peringatan untuk disiplin lebih tinggi.


5 Q&A Seputar Lost Signal Drone


Penyebab Lost Signal pada Drone Aerial, Cara Mengatasi, dan Tips Praktis untuk Daily Use

1. Apakah lost signal pasti bikin drone jatuh?

Tidak. Drone DJI umumnya punya sistem RTH otomatis. Tapi kalau setting salah atau ada obstacle tinggi, tetap ada risiko.

2. Jarak berapa biasanya mulai rawan lost signal?

Tergantung kondisi lingkungan. Di area kota padat, 500–800 meter bisa sudah tidak stabil. Di area terbuka, bisa jauh lebih aman.

3. Apakah cuaca memengaruhi sinyal?

Angin tidak langsung memutus sinyal, tapi badai, hujan deras, dan gangguan atmosfer bisa memengaruhi kestabilan transmisi.

4. Perlu pakai signal booster?

Untuk penggunaan profesional standar, tidak selalu perlu. Yang lebih penting adalah teknik terbang dan pemilihan lokasi.

5. Apakah semua drone punya risiko lost signal?

Ya. Mau entry level atau flagship, semuanya berbasis transmisi radio. Risiko tetap ada, hanya sistem mitigasinya yang berbeda.


Kesimpulan: Kontrol Itu Lebih Penting dari Sekadar Terbang

Lost signal bukan akhir dunia. Tapi itu tanda bahwa kita harus lebih disiplin, lebih teknis, dan lebih sadar lingkungan. Drone aerial adalah kombinasi antara teknologi dan pilot mindset.

Kalau kalian serius pakai drone untuk kebutuhan bisnis—event, marketing, dokumentasi proyek, atau promosi properti—maka stabilitas dan keamanan harus jadi prioritas utama.

Why Drone Aerial adalah Penyedia Jasa Pilot Drone untuk Pengambilan Foto dan Video Udara dengan Menggunakan Drone Jenis Aerial (DJI Series). Kita mengutamakan keamanan penerbangan, kestabilan sinyal, dan kualitas visual yang presisi untuk kebutuhan komersial kalian.

Hubungi kami sekarang untuk kebutuhan dokumentasi udara profesional kalian. Phone/Whatsapp at 0877-2640-4097.